banner 325x300

Kisah Pahlawan Nusantara, Sultan Baabulah Ternate Pengusir Penjajah dan Penguasa Puluhan Pulau

  • Bagikan
Sumber: pariwisataindonesia.id

Matamaluku.com  – Indonesia memiliki banyak kisah heroik dalam bidang perjuangan melawan penjajah di masa lampau. Pahlawan daerah muncul bergerak ke permukaan demi mengentaskan sebuah keadilan yang direbut oleh kebijakan penjajah. Mulai dari Sabang hingga Merauke semua orang mengecam aksi keji dan semena-mena penjajah. Alhasil, dengan kegigihan para pemimpin dan rakyat yang tangguh, sedikit demi sedikit para penjajah hengkang dari bumi nusantara.

Satu kisah dari tanah Ternate kala itu, Sultan Baabulah atau dikenal dengan nama Sultan Baab yang menjadi pemimpin sekaligus penggerak melawan penjajah yang terkenal dengan gelar “Penguasa 70 Pulau”. Riwayat menyebutkan bahwa beliau memang otak kua berperang dan tegas membela bak keluarga di tanah ketimuran.

Biodata Sultan Baabulah

Baab lahir di keluarga yang cukup terhormat dan berpendidikan pada tanggal 10 Februari 1528 dari pasangan suami istri yang juga asli dari Ternate. Ayahnya bernama Khairun Jamil dan ibunya bernama Boki Tanjung.  Baab mulai menampakkan kecerdasannya di waktu usia 5 tahun dengan belajar agama Islam dan kehidupan sosial. Ayahnya yang juga pemuka agama sering kali menanamkan nilai tegas dalam mengikat sebuah akhlak terpuji dan keyakinan. Maka dari itu, ketika Baab beranjak dewasa banyak pihak yang salut dan menaruh hormat dengan beliau.

Riwayat Masa Muda 

Masa muda dimulai ketika Baab beranjak usia remaja, sekitar 16 tahun yang diarahkan oleh ayahnya untuk belajar sistem pemerintahan. Mungkin masih sangat muda sekali bagi seorang pangeran tetapi ayahnya menghendaki Baab bisa menjadi penerus tahta kerajaan Ternate kala itu. Baab muda selalu menemani ayahnya kemanapun perjalanan politik hingga survey ke lingkungan masyarakat sehingga beliau tahu bagaimana kondisi rakyatnya.

Baab muda kini peka dengan rasa solidaritas dan mulai melawan sikap penjajah yang merebut kebebasan rakyatnya. Semangatnya bertambah kuat ketika sang ayah yang sedang duduk berdiskusi dengan pentolan Portugis ditikam dari belakang dan mayatnya dibuang ke lautan. Lantas Baab menghunus pedang ke arah penjajah dan menyatakan perang besar.

Beliau pulang dengan membawa jasad ayahnya dan esok hari diadakan acara pengukuhan gelar Sultan Baabulah Datu Syah pada tahun 1570. Dengan rasa dendam yang tinggi, Baab menyusun strategi dan bekerja sama dengan petinggi negeri lainnya untuk segera mengusir penjajah.

Riwayat perang dengan Portugis

Ternate merupakan ladang luas rempah cengkeh masa itu, pihak Portugis melirik dengan kerja sama yang profesional pada awal kedatangan. Namun, seiring berjalannya waktu, keserakahan pihak Portugis untuk menguasai daerah timur lainnya disangkutpautkan dengan kepentingan agama dan tujuan lain. Pihak Ternate yang kala itu sedang dipimpin oleh Sultan Khairun sempat mencium gelagat curang dan memutuskan untuk berunding dengan pentolan Portugis bernama kapten Diogo Lopes des Mosquita di kediamannya, Benteng Kastela.

Tepat pada tanggal 25 Februari 1570, Sultan Khairun mendatangi kediaman kendati masih dalam kondisi tegang karena suplai bahan makanan dihentikan oleh beliau ke perkampungan Portugis. Dalam rundingan tersebut pihak Portugis masih belum mendapatkan titik terang sehingga diam-diam kapten menyuruh keponakannya bernama Pemitel berjaga di pintu gerbang untuk menikam sang Sultan Khairun hingga tewas.

Sumber: asset.kompas.com

Mayatnya digeret ke lautan dan dibuang bak hewan buas. Seketika itu dikabarkan mata-mata dari Ternate melaporkan dan Baab geram. Mulailah Sultan Baabullah melakukan aksi peperangan tiada ampun. Langkah awal menyusun pasukan untuk melawan Portugis adalah dengan menikahi putri dari negeri Tidore. Dengan demikian, Baab bisa memperkuat hubungan daerah Ternate dan Tidore. Selain menyusun strategi yang matang, Baab juga mendatangi pihak negeri lainnya untuk bekerja sama mengusir penjajah sembari melakukan perdagangan yang menguntungkan. Negri yang diajak untuk bekerja sama seperti Raja Ampat, Ambon dan sebagainya.

Prestasi selama menjabat

  1. Membuat Portugis kocar kacir 5 tahun

Dengan menyusun strategi yang sakti dan cerdas, Sultan Baab menyerang sisi bagian penting penjajah yaitu rasa lapar dan haus. Suplai makanan dijaga ketat oleh pihak penjaga Ternate di banyak titik. Hal tersebut akan melemahkan Portugis. Cara yang kedua adalah menerima ajakan kerja sama dari negara Inggris di bawah pimpinan Ratu Elizabeth untuk mengusir Portugis dengan impor senjata api. Dalam negosiasinya, sempat Baab memberikan pajak tinggi namun melihat pihak Inggris bersedia membantu suplai senjata api maka pajaknya diturunkan dan bersedia mengirimkan rempah untuk pihak Inggris.

Kesepakatan terjadi dan kini kekuatan Portugis bisa dihempaskan oleh tentara Ternate.

  1. Memperluas wilayah kekuasaan

Kekuasaan Ternate tidak hanya di sekitaran saja tetapi meluas hingga ke area Sulawesi, Ambon dan Nusa Tenggara. Sistem yang dipakai adalah perdagangan tanpa mencampur adukkan keyakinan serta menegaskan kepada para pemimpin daerah untuk tidak takhluk dengan pihak asing. Salah satu kebijakan yang utama untuk pihak asing adalah menghilangkan hak istimewa sebagai bentuk ketat saat datang ke tanah Ternate. Sultan Baabulah juga ingin menjelaskan kepada pihak asing untuk melepaskan topi dan sepatu mereka saat tiba di pelabuhan agar mereka sadar sikap dan tahu diri. Karena kecerdasannya banyak pulau diuntungkan selama masa Baab menjabat dan mereka berada di bawah aturan Sultan Baab. Bisa dikatakan bahwa masa 1570 adalah masa rintisan keemasan dari Sultan Baabulah.

  1. Pintar negosiasi halus

Negosiasi yang dilakukan oleh Baab sangat memukau ketika beliau berusaha mengusir penjajah Portugis dengan tegas namun tetap memperlakukan bijaksana kepada orang pribumi yang menikah dengan Portugis. Beliau mencabut semua fasilitas yang diberikan Portugis kepada pasutri yang menikah dengan pihak Portugis. Setelah penjajah hengkang, pihak Portugis yang telah menikah harus ikut aturan tanah Ternate.

Cara kedua, Baab memberikan pajak upeti yang merdeka bagi daerah kekuasaan di bawahnya sehingga semua daerah merasa nyaman dan tidak ada pergolakan di dalamnya. Sumber makanan selalu ada dan kerja sama dengan pihak asing dimonitor oleh Baab guna melindungi semua daerah nusantara tidak menjadi bawahan penjajah.

  1. Kuat mempertahankan keyakinan Ternate

Kendati Ternate kala itu menjadi sebuah penguasa namun tetap rakyatnya dipegang teguh keyakinan Islam kuat. Inilah yang membuat Baab patut dicontoh.

Selama masa kejayaan, bukan berarti daerah di bawah naungan Sultan Baabulah tidak ada konflik, ada bagian tertentu yang bersitegang karena ketidak adilan pembagian perdagangan. Tentunya hal itu tidak terlepas dari provokator Portugis yang kian melemah. Sedemikian cara untuk bangkit tetapi, Baab tegas untuk menolak perdagangan dari Portugis.

Sultan Baab wafat pada tahun 1583 dengan sebab yang tidak jelas, masih misteri. Ada yang menebak jikalau beliau diracun dan disihir namun ada juga yang mengatakan kalau Baab meninggal karena dibunuh selama perjalanan dagang.

Generasi penerusnya adalah Said Barakati yang kini terus melakukan perlawanan dengan mempersempit ruang gerak spayol dan Portugis. Ada sekitar 90 pulau yang Baab taklukan sebagai bentuk prestasi perjuangan mempertahankan nusantara.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *