Pj Wali Kota Resmikan Monumen Tampa Garam SMPN 19 Ambon

  • Bagikan
Pj Wali Kota Resmikan Monumen Tampa Garam SMPN 19 Ambon

Ambon – Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini turut memberikan dampak bagi pengembangan nilai-nilai budaya lokal yang selama ini tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Maluku.

Masuknya nilai-nilai baru akibat berbagai persentuhan dengan budaya luar menjadi suatu fakta sosial dalam konteks kekinian

Salah satunya tradisi Tempat Garam atau yang dikenal dengan Tampa Garam di meja makan merupakan suatu konstruksi budaya di masa lalu yang kental dengan nilai hidup orang basudara kini mulai hilang.

Belakangan tradisi makan semeja yang diatasnya terdapat Tampa Garam jarang ditemukan di atas meja. Padahal  Tempat garam memberikan simbol penerimaan satu terhadap yang lain dalam kelebihan dan kekurangan masing-masing, yang ditandai dengan cara mencelupkan jari ke dalam tampa garam untuk menambah cita rasa untuk menikmati makan.

Tidak mau tradisi ini punah begitu saja, SMPN 19 Ambon mempertahankannya dengan membangun monumen atau tugu Tampa Garam yang diresmikan oleh Penjabat Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena, Rabu (9/11/2022).

Selain monumen Tampa Garam, Penjabat Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena juga meresmikan Smart Class SMPN 19 Ambon.

“Garam sebagai pemberi rasa asin menjadi media pengikat setiap individu yang terlibat dalam makan bersama. Makna sosial garam dalam relasi sosial diantara anggota keluarga sesungguhnya memberikan gambaran mengenai rasa harmonis/keakraban yang sangat kuat, sedangkan untuk suatu hubungan yang tidak harmonis senantiasa digambarkan dalam suasana hati yang tawar. Disinilah nilai tampa garam memberi rasa yang positif dalam mengharmonisasi hubungan-hubungan yang renggang dalam ikatan keluarga,” ujar Wattimena.

Sementara itu, Kepala SMPN 19 Novi Gaspersz mengungkapkan, berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini turut memberikan dampak bagi pengembangan nilai-nilai budaya lokal yang selama ini tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Maluku.

“Belakangan tradisi makan semeja yang diatasnya terdapat Tampa Garam jarang ditemukan,” ujar Gaspersz.

Padahal Tampa garam memiliki nilai kekhususan dalam kehidupan orang Maluku, karena dipahami sebagai pengikat tali persaudaraan diantara sesama anggota keluarga maupun setiap orang yang terlibat dalam makan bersama.

Menurut Gaspersz, monumen yang dibangun di depan SMPN 19 Ambon sebagai implementasi dari hasil Juara dua Olimpiade Penelitian Siswa Tingkat Nasional Tahun 2018.

Sebagai tindak lanjut pihak sekolah membangun monumen ini sebagai simbol pembelajaran memperkuat karakter bangsa.

“Ide membuat monumen Tampa Garam setelah siswa SMPN 19 Ambon melakukan penelitian tentang tampa garam berdasarkan situasi anak-anak muda dan orang tua yang sudah tidak lagi menghargai meja makan sebagai tempat untuk berkomunikasi membahas suka dan duka keluarga,” katanya.

Gaspersz menjelaskan, dalam tradisi makan bersama di meja makan yang didalamnya terdapat tampa garam orang tua sering menasehati anak-anak (anggota keluarga) untuk saling menyayangi atau pun melakukan sesuatu yang bersifat baik.

“Kekuatan nasehat tersebut diperkuat dengan pernyataan sederhana seperti larangan dan janji dan memiliki kekuatan untuk mengikat semua orang sehingga selalu dikenang dan di ingat,” jelasnya.

Dalam konteks ini, nasehat dan didikan orang tua menjadi sesuatu yang sangat penting bagi setiap anak (anggota keluarga). Pada titik ini tampa garam mampu menjadi semen peradaban untuk merekatkan ikatan-ikatan persaudaran dalam keluaraga.

Secara realita masyarakat Maluku hari ini menunjukan, bahwa kebudayaan orang Maluku telah ada dalam suatu kondisi yang sangat memprihatinkan.

Sistem tata nilai yang selama ini menjadi penyaring mulai terkikis ditengah pusaran zaman. Keluarga sebagai basis sekaligus ujung tombak untuk membentuk nilai hidup orang basudara seakan kehilangan arah dan tidak berfungsi.

Meja makan dan tampa garam yang pada mulanya menjadi media untuk membentuk hidup orang basudara seakan tidak memiliki arti yang penting.

Untuk itu diperlukan suatu pencerahan sebagai suatu upaya dalam menata dan mengembalikan kembali nilai-nilai hidup orang basudara.

Tradisi makan di meja makan merupakan suatu pola pendidikan keluarga yang mesti ditumbuh kembangkan dalam kehidupan keluarga, sehingga lewat semunya itu terbentuk kembali pola dan sistem tata nilai yang memberikan gambaran identitas kemalukuan yang selama ini hidup dan berkembang dalam budaya masyarakat Maluku.

Pada titik ini meja makan dan tampa garam yang selama ini dijadikan sebagai media pendidikan dan pembentukan hidup orang basudara dalam keluarga mesti dikembalikan sebagai identitas sosial yang senantiasa melekat dalam diri orang Maluku.

Acara peresmian monumen Tampa Garam dan Ruang Smart Class ini juga diisi dengan berbagai tarian, musik dan drama menceritakan tentang tampa garam oleh para siswa. Matamaluku.com

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *