Menteri Kominfo Targetkan Kecepatan Internet Indonesia Hingga 30 Kali Lipat

  • Bagikan
Menkominfo Budi Arie 2
Menteri Komunikasi dan Informatika Budi Arie Setiadi saat peresmian pembangunan Fasad dan Gedung UPT Balai/Loka Monitor Spektrum Frekuensi Radio (SFR) Kelas I Makassar

Makassar – Menteri Komunikasi dan Informatika, Budi Arie Setiadi, menetapkan target ambisius untuk meningkatkan kecepatan internet di Indonesia hingga 30 kali lipat pada tahun 2045, sesuai dengan visi Indonesia Digital 2045. Pada peresmian pembangunan Fasad dan Gedung UPT Balai/Loka Monitor Spektrum Frekuensi Radio (SFR) Kelas I Makassar di Gowa, Menkominfo menyampaikan bahwa kecepatan internet saat ini baru mencapai 24,9 Mbps, dan visi tersebut bertujuan mencapai 765 Mbps.

“Saat ini, kecepatan internet Indonesia masih di bawah standar, hanya 24,9 Mbps. Namun, dengan visi Indonesia Digital 2045, kita menargetkan kecepatan mencapai 765 Mbps pada tahun 2045, melompat 30 kali lipat dari kondisi sekarang,” ujar Budi di Gowa, Kamis.

Budi mengakui bahwa Indonesia masih tertinggal dalam kecepatan internet jika dibandingkan dengan negara-negara maju. Namun, pemerintah terus berupaya membangun infrastruktur jaringan untuk mempercepat dan mewujudkan visi Indonesia Digital 2045.

Menteri Kominfo mendorong kolaborasi dan dukungan dari semua pihak untuk menciptakan ekosistem digital yang inklusif dan kolaboratif berbasis inovasi, sebagai bentuk dukungan untuk Indonesia Maju, Berdaulat, dan Berkelanjutan.

Ia juga menekankan pentingnya pemahaman bersama dan langkah-langkah implementasi terukur serta selaras antara lembaga pemerintah, swasta, dan masyarakat. Ismail, Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pis dan Informatika (SD PPI) Kementerian Kominfo, menambahkan bahwa peresmian gedung kantor dilengkapi dengan alat-alat monitor spektrum frekuensi radio tetap maupun stasiun bergerak.

Gedung tersebut berfungsi sebagai balai monitoring yang bertugas melaksanakan pengawasan dan pengendalian di bidang penggunaan spektrum frekuensi radio, termasuk kegiatan pengamatan, deteksi sumber pancaran, monitoring, dan penerbitan. Ismail menjelaskan bahwa tugas tersebut sangat vital dalam menjaga komunikasi di sektor-sektor krusial seperti penerbangan dan kebencanaan.

Dengan adanya 19 gedung balai monitoring di seluruh Indonesia, termasuk di Gowa, pemerintah berupaya untuk memastikan ketersediaan infrastruktur yang memadai seiring dengan pertumbuhan pesat sistem komunikasi dan perkembangan teknologi baru. Ismail menegaskan bahwa kompetensi SD PPI menjadi kunci dalam mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi, dan pihaknya terus berupaya melakukan perubahan yang proporsional serta evaluasi kegiatan selama tahun 2024.

“I tahun 2024 ini kita akan berlari kencang untuk mensupport agenda-agenda ekonomi digital, teknologi digital, dan membawa perubahan dengan banyak aspek-aspek kehidupan,” ungkap Ismail. Matamaluku/Antara

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *