Dinkes Ambon : Kekurangan Laboratorium Uji Sampel dan Spesimen PCR

  • Bagikan
Dinkes Ambon : Kekurangan Laboratorium Uji Sampel dan Spesimen PCR

Ambon – Pemerintah Kota Ambon masih kekurangan laboratorium uji spesimen dan sampel  dalam meningkatkan kapasitas yang masuk di tengah pandemi COVID -19.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon Wendy Pelupessy mengatakan, Maluku baru memiliki satu laboratorium uji spesimen, sedangkan, setiap harinya ada lebih dari seribuan spesimen yang diuji pada Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKL-PP) Kelas II Ambon.

Jumlah laboratorium ini dinilai belum memenuhi target pemeriksaan sampel sesuai jumlah penduduk  Ambon apalagi ditengah gempuran tingginya angka terkonfirmasi COVID-19 di Kota Ambon.

Pelupessy  mengakui, hasil pemeriksaan swab test dari spesimen yang masuk ke laboratorium COVID-19 membutuhkan waktu berhari – hari dari waktu dibutuhkan.

“Nah yang jadi masalah di laboratorium, kalau hasilnya cepat keluar orang-orang yang dirawat bisa cepat kita pulangkan dan yang lain bisa menempati tempat mereka, yang sekarang hasil lab baru keluar 6 sampai  7 hari. Sebelumnya  hanya dua sampai tiga hari”kata Pelupessy.

BTKL-PP sebagai  salah satu laboratorium supporting dalam menguji hasil ekstraksi spesimen dalam bentuk RNA (Ribonucleic Acid) SARS-CoV-2 menggunakan RT-PCR, tidak  saja menguji sample spesimen dari kota Ambon, tetapi juga dari Kabupaten lain di Maluku.

“Spesimen yang masuk cukup banyak, bukan saja dari Ambon, tapi dari Kabupaten lain juga masuk itu yang jadi masalah buat kita. Kita sudah usulkan kalau bisa dibuka lagi lab yang bisa memeriksa hasil PCR”ungkapnya.

Wendy mengaku selain Rumah Sakit Rujukan COVID-19,  saat ini semua tempat penampungan isolasi terpusat atau rumah sakit lapangn seperti Hotel Everbright, Hotel Wijaya, Guest House HI sudah penuh, sehingga sebagian mereka yang terkonfirmasi menjalani islosasi mandiri dan dipantau petugas medis dari Puskesmas.

“Kita sekarang ini kekurangan tempat, kita sudah buka tiga rumah sakit lapangan yaitu di Hotel Wijaya, Hotel Everbright dan Guest house HI, untuk di Everbright kita buka dua hari saja sudah penuh, karna daya tampungnya hanya 74.Provinsi juga buka di asrama haji itu juga penuh” jelas Pelupessy.

Untuk bisa menampung pasien terkonfirmasi Pemkot Ambon katanya menjajaki tempat isolasi terpusat baru yaitu gedung  LPMP Wailela.

“Kita lagi penjajakan buka di LPMP karena jumlah daya tampungnya bisa  sampai 60, kalau kasusnya  rata rata diatas seratus  mau berapapun kita buka tetap penuh” tandasnya

Untuk itu Pelupessy menghimbau warga kota Ambon tetap mematuhi penerapan protokol kesehatan 5M, dan tiak melakukan akfitas berlebihan di liaur rumah jika tidak diperlukan, demi memutus mata rantai penyebaran COVID- 19 di Kota Ambon.

Dikatakan aturan prokes diberlakukan semata – mata untuk melindungi warga kota Ambon dari penyebaran COVID  yang terus meningkat, Dia berharap warga tetap mematuhi penerapan protokol kesehatan dengan sesuai anjuran pemerintah demi kebaikan bersama.

Data kasus terkonfirmasi kota Ambon per 10 Juli 2021 yakni 1.815 (Suspek + Positif), 8 Suspek, 1.807 terkonfirmasi Positif, secara akumulatif Kasus Konfirmasi Positif sebanyak 6.953, menjalani perawatan  1.807, sembuh bertambah 5.037 dan 109 meninggal. Matamaluku.com

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *