Balita Korban Penganiayaan Meninggal Dunia di RS Polri

  • Bagikan
Kepala Unit PPA Polres Metro Jakarta Timur Iptu Sri Yatmini
Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Metro Jakarta Timur Iptu Sri Yatmini

Jakarta – Tragedi penganiayaan menimpa seorang balita berusia 3 tahun dengan inisial HZ, yang akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Jumat petang sekitar pukul 16.08 WIB, setelah menjalani perawatan medis.

“Iya, benar, meninggal dunia, dan jenazah ada di Rumah Sakit (RS) Polri Kramat Jati. Saya pun lagi di sini (RS Polri Kramat Jati),” ujar Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Metro Jakarta Timur, Ipda Sri Yatmini, saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.

HZ menjadi korban penganiayaan yang dilakukan oleh RA (29), pacar dari tantenya yang berusia 17 tahun, di kawasan Condet, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Brigjen Pol Hariyanto, Kepala Rumah Sakit Polri Kramat Jati, menyampaikan bahwa HZ meninggal dunia akibat cedera otak berat. “Balita meninggal, mengalami gegar otak berat dan membutuhkan bantuan nafas sejak masuk RS Polri,” ujar Hariyanto.

Sejak berada di rumah sakit, HZ tidak sadarkan diri (koma). Beberapa kondisi tulang korban juga ditemukan patah.

“Tulang selangka korban patah, memar, dan gangguan pada sendi bahu. Jadi, traumanya tampaknya pada bahu kanan dan kepala,” tambahnya.

Motif pelaku RA (29) dalam melakukan penganiayaan terhadap balita HZ di kawasan Condet, Kramat Jati, adalah karena merasa terganggu saat ingin berhubungan intim.

Kapolres Metro Jakarta Timur, Kombes Pol Leonardus Simarmata, dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (12/12), menyampaikan bahwa pelaku RA merasa terganggu dengan tangisan korban saat hendak berhubungan intim dengan pacarnya, yang merupakan tante korban.

“Tante korban (S) dan tersangka RA ini tinggal di dalam satu rumah di kontrakan layaknya suami istri. Korban sering rewel sehingga mengganggu hubungan asmara pelaku,” ungkapnya.

Leonardus menjelaskan bahwa RA sering melakukan penganiayaan terhadap HZ, hingga kondisi balita tersebut kritis di Rumah Sakit Polri Kramat Jati.

Meskipun hubungan antara RA dan S belum resmi menikah, keduanya tinggal dalam satu rumah dan sudah menjalin hubungan layaknya suami istri. HZ adalah keponakan S, yang dititipkan oleh orang tua HZ yang sedang bekerja di luar negeri sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW).

Pelaku RA dijerat dengan Pasal 76C dan Pasal 80 ayat 3 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. DMS/Ac

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *