Anak Adat Negeri Urimessing Tolak Penetapan Mata Rumah Parentah

  • Bagikan
Anak Adat Negeri Urimessing Tolak Penetapan Mata Rumah Parentah

Ambon – Tokoh adat bersama puluhan anak adat Negeri Urimessing, Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon, Selasa (28/09) ramai-ramai mendatangi Balai Kota Ambon dan menggelar demo penolakan terhadap penetapan keluarga Tisera sebagai mata rumah parentah di Negeri Urimesing.

Demonstran meminta sekaligus mendesak Pemerintah Kota Ambon dalam hal ini Walikota Ambon Richard Louhenapessy tidak menerima penetapan tersebut, karena dinilai syarat rekayasa dan intimidasi.

Dalam orasinya demonstran menilai penetapan mata rumah parentah yang dilakukan secara Voting mengatasnamakan Saniri Negeri Urimesing cacat hukum dan tidak sesuai mekanisme musyawarah adat.

Demonstran menilai penetapan mata rumah parentah dilakukan diduga dibawah intimidasi sehingga  Johanis Tisera alias Buke ditetapkan sebagai calon Raja Negeri Urimessing dari keluarga Tisera.

Kepala Soa dari Mata Rumah Parentah Samaleleway, Haja Elias Samaleleway mengatakan, penetapan keluarga Tisera sebagai mata rumah parentah pada tanggal 9 September 2021 di Dusun Seri Negeri Urimessing merupakan inisiasi Johanis Tisera yang juga Ketua Saniri.

Menurut Elias penetapan mata rumah parentah dan calon raja seharusnya dilakukan melalui musyawarah adat oleh Saniri (Dewan Adat) yang mewakili Sembilan Soa yang ada di Negeri Urimessing.

Tetapi kenyataanya penetapan tersebut dilakukan melalui mekanisme Voting. Elias Samaleleway mengungkapakan dari sembilan perutusan hadir dalam pertemuan tanggal 9 September lalu itu. Soa Tisera termasuk salah satu dari empat Soa menolak penetapan keluarga Johanis Tisera sebagai mata rumah parentah sedangkan lima lainnya menyetujui.

Dikatakan Elias lebih dari 30 tahun Urimessing sebagai salah satu Negeri Adat di Kota Ambon tidak memiliki raja defenitif, oleh karena itu masyarakat menginginkan proses penetapan raja dilakukan sesuai mekanisme adat dan bukan melalui Voting.

Massa aksi yang datang di Balai Kota Ambon membawa sejumlah poster penolakan terhadap Johanis Tisera alias Buke yang ditetapkan sebagai calon Raja dari mata rumah keluarga Tisera.

Beberapa poster berisi tulisan penolakan antara lain meminta pemerintah tidak boleh kalah dari preman, Urimessing butuh pemimpin yang sah juga meminta agar hak-hak adat jangan dikebiri demi kepentingan oknum atau kelompok tertentu.

Setelah kurang lebih menggelar aksi di depan Balai Kota Ambon yang terletak di Jl. Sultan Hairun, lima perutusan demonstran diizinkan masuk untuk bertemu dan berdialog dengan Asisten Satu Sekda Kota Ambon.

Aksi yang digelar anak adat Negeri Urimessing itu berlangsung aman. Usai menemui Asisten Satu demonstran langusng meninggalkan Balai Kota Ambon menggunkan beberapa mobil angkot kembali ke Negeri Urimessing. Matamaluku.com

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *